SAMARINDA, JURNALKALTIM.com – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda mengusulkan pembangunan dermaga wisata melalui konsep pedestrian. Rencananya, pembangunan lokawisata tersebut akan berlangsung di kawasan Masjid Shiratal Mustaqiem Samarinda Seberang. Penggunaan konsep pedestrian ini pun dinilai mampu mengurangi karbondioksida yang dipicu oleh kendaraan bermotor sekaligus meningkatkan efisiensi dalam penggunaan energi.
Dishub Samarinda : Konsep Pedestrian Jauh Lebih Efektif
Kepala Dishub Samarinda, Hotmarulitua Manalu menyampaikan usulan terkait penggunaan konsep pedestrian dalam pembangunan dermaga wisata saat mengikuti rapat koordinasi ke-3 rencana pembangunan dermaga pariwisata. Rapat koordinasi ini pun berlangsung di Ruang Rapat Asisten II Balai Kota Samarinda, Kalimantan Timur pada Selasa (29/8/2023).
Selain itu, pertemuan ini juga turut dihadiri oleh sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OOPD) yang terlibat dalam proses pembangunan, seperti Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda, perwakilan dari Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan (Bapedalitbang), perwakilan dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), serta Pemerintah Kota Samarinda yang terlibat dalam administrasi pembangunan.

“Rapat strategis ini dihadiri berbagai pihak, termasuk Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata, Bapedalitbang, BPKAD, serta tim Administrasi Pembangunan Kota Samarinda,” ujar Manalu.
Manalu mengungkapkan bahwa usulannya terkait penggunaan konsep pedestrian memiliki banyak dampak positif bagi lingkungan, diantaranya meningkatkan estetika kota, mempermudah aksesibilitas, meningkatkan kesehatan masyarakat, dan menjadi salah satu upaya dalam memelihara lingkungan yang bersih.
“Saya mengusulkan agar nanti dibangun konsep pedestrian,” ucapnya.
Selain itu, Manalu juga menjelaskan bahwa konsep pedestrian friendly sangat berpengaruh dalam meminimalisir terciptanya karbondioksida (CO2) oleh kendaraan bermotor. Pasalnya, konsep pedestrian merupakan suatu cara dalam membangun kawasan berupa jalur untuk berjalan kaki. Biasanya, pembangunan ini dapat berupa trotoar, pavement, sidewalk, pathway, plaza dan mall.
“Itu juga bisa dan sebagai upaya agar mengurangi karbon dioksida,” jelasnya.
Keputusan Final Pembangunan Dermaga Wisata Berada di Tangan Disporapar Kota Samarinda
Usai memberikan usulan terkait penggunaan konsep pedestrian friendly, Kepala Dishub Samarinda, Hotmarulitua Manalu menyampaikan bahwa pengambilan keputusan diserahkan kepada pihak Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Samarinda. Ia menyebut, bahwa usulan tersebut akan dikaji kembali mengingat pembangunan dermaga wisata membutuhkan perencanaan dan penghayatan yang matang.
“Hal ini perlu dikaji kembali secara menyeluruh. Konsep pembangunan dermaga wisata nantinya akan disusun dan tergantung oleh Disporapar,” terangnya.
Sebelumnya, Dishub Kota Samarinda telah menilai bahwa kawasan Masjid Shiratal Mustaqiem di Samarinda Seberang memiliki potensi yang signifikan dalam pembangunan dermaga wisata. Sehingga, pengaplikasian konsep pedestrian diharapkan tidak hanya diterapkan di sisi sungai saja, melainkan juga di wilayah daratannya.
“Ada baiknya itu pedestrian, tidak hanya dibenahi di sisi sungai saja, tapi juga di sisi daratnya,” ucapnya.
Lebih lanjut, Manalu mengungkapkan bahwa pembangunan zona pejalan kaki tersebut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Pasalnya, para wisatawan akan disuguhkan dengan sensasi berjalan kaki sambil berbelanja. Bahkan, pihak Dishub Kota Samarinda pun telah menyiapkan rancangan terkait fasilitas parkir dalam mendukung konsep pedestrian.
“Dengan penerapan konsep zona pejalan kaki ini di masa depan, para pengunjung dapat menikmati berjalan kaki sambil berbelanja dengan nyaman,” terangnya.
Sebagai informasi, konsep pedestrian baru-baru ini tengah digencarkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda karena dinilai efektif dalam membangun kebiasaan berjalan kaki. Walikota Samarinda, Andi Harun mengungkapkan bahwa konsep tersebut merupakan tantangan bagi Pemkot Samarinda dalam menghadapi perubahan sosial di lingkungan masyarakat.
“Ingat pepatah, kita bisa karena terbiasa. Bahkan teori perubahan sosial juga mengatakan perlu dicoba hingga puluhan kali untuk terbiasa,” tuturnya.
Selain penerapan konsep pedestrian dalam rencana pembangunan dermaga wisata, Wali Kota Andi bahkan telah menerapkan konsep tersebut dalam revitalisasi kawasan Citra Niaga.
“Jadi di setiap transformasi transisi ada habit baru yang akan berhadapan dengan habit lama,” pungkasnya.

