
Kutai Kartanegara, Jurnalkaltim.com – Dalam upaya pengendalian inflasi di Daerah Kutai Kartanegara (Kukar), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar telah mengambil langkah proaktif. Kepala Disperindag, Arfan Boma Pratama, mengumumkan bahwa pada tahun 2023, mereka telah menetapkan 300 titik sebagai sasaran operasi pasar yang tersebar di seluruh kecamatan Kukar.
Kolaborasi Disperindag Kukar dan Bulog Samarinda dalam Operasi Pasar

Menurut Arfan Boma Pratama, “Insyaallah target tersebut akan selesai pada Desember 2023 ini. Operasi pasar yang sudah kita gelar Tahun ini ada 58 titik.” Langkah-langkah ini menjadi penting untuk mengendalikan tingkat inflasi yang memengaruhi harga-harga di wilayah tersebut.
Salah satu kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan operasi pasar adalah keterbatasan jumlah tenaga Sumber Daya Manusia (SDM). Disperindag Kukar bekerja sama dengan Bulog Samarinda dalam menyiapkan komoditas. “Kami hanya mensubsidi jasa angkutnya saja, yang menjual bahan bahannya dari Bulog seperti beras, gula, minyak dan lainnya,” ungkap Arfan.
.Arfan Boma mengakui bahwa operasi pasar belum dapat mencakup beberapa wilayah, terutama di Kecamatan Anggana dan Muara Kaman. Kedua kecamatan ini memiliki tingkat rawan pangan yang sangat tinggi, dan operasi pasar di wilayah ini memerlukan angkutan perairan.
Untuk mengatasi masalah ini, Disprindag Kukar berharap untuk berkolaborasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) dalam penanganan angkutan perairan. Kolaborasi ini diharapkan dapat memungkinkan pelaksanaan operasi pasar yang murah dan merata di seluruh Kukar.
Langkah-langkah yang diambil oleh Disperindag Kukar ini menunjukkan komitmen mereka dalam menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi di wilayah tersebut. Dengan menargetkan 300 titik operasi pasar, mereka berharap dapat memberikan akses yang lebih baik kepada masyarakat terhadap barang-barang kebutuhan pokok dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Disperindag Kukar Kolaborasi Dengan Pemkab untuk Stabilkan Harga Bahan Pokok
Pada bulan Februari lalu dalam upaya untuk mengatasi kenaikan harga bahan pokok penting, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kukar terus melangkah maju. Di tengah kondisi inflasi yang mempengaruhi Kukar, langkah-langkah konkret telah diambil untuk memastikan ketersediaan dan stabilitas harga bahan pokok.
Sekretaris Disperindag Kukar, Sayyid Fathullah, mengungkapkan bahwa kondisi inflasi di Kukar saat ini terbilang aman, yaitu sebesar 4,8 persen, di bawah angka inflasi Provinsi Kaltim yang mencapai 4,9 persen. Pasokan bahan pokok penting di 20 kecamatan juga masih dalam kondisi aman.
Menurut Sayyid, salah satu faktor keberhasilan ini adalah letak Kukar yang berdekatan dengan ibu kota Provinsi Kaltim, Samarinda. Hal ini memudahkan proses distribusi ke Kukar, mulai dari jaringan pemasaran hingga infrastruktur distribusi di lapangan, yang tidak mengalami kendala berarti.
Sayyid menekankan, “Jadi dalam artian tanpa campur tangan pemerintah, pasar ini berjalan dengan baik. Infrastruktur kita mendukung, kecuali terjadi banjir, jalan putus, atau bencana alam lainnya, baru kita akan menghadapi kesulitan.”
Disperindag Kukar telah mempersiapkan berbagai instrumen untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok. Salah satunya adalah dengan melibatkan masing-masing kecamatan untuk memantau fluktuasi harga barang pokok di wilayah mereka. Ketika terjadi kenaikan harga yang signifikan, tindakan intervensi segera dilakukan.
Sayyid menjelaskan bahwa Disperindag Kukar memiliki kewajiban untuk melaporkan harga bahan pokok ke tingkat provinsi dan pemerintah pusat. Hal ini penting untuk memastikan kontrol atas harga-harga yang sangat vital bagi masyarakat.
Namun, Sayyid juga mengingatkan bahwa menjelang Bulan Ramadan, fenomena kenaikan harga bahan pokok, terutama di 5 kecamatan hulu Kukar seperti Tabang, Kembang Janggut, Kenohan, Kaman, dan Kota Bangun, menjadi tidak terelakkan. Masyarakat sering menyebutnya sebagai fenomena HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional).
Untuk menghadapi situasi ini, Disperindag Kukar akan meluncurkan operasi pasar. Mereka akan bekerja sama dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk menyubsidi ongkos angkut, sehingga masyarakat dapat membeli bahan pokok dengan harga distributor.
Sayyid menutup dengan mengatakan, “Biasanya, di awal Ramadan, harga bahan pokok mulai merangkak naik, terutama dalam seminggu menjelangnya. Produk seperti migor dan tepung sering mendominasi kenaikan harga tersebut.”
Upaya terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok di Kukar, dan Disperindag Kukar berkomitmen untuk memberikan solusi konkret dalam menghadapi kenaikan harga yang tak terhindarkan menjelang perayaan keagamaan.

