25.3 C
Samarinda
Kalimantan TimurKutai KartanegaraStok Pangan di Kukar Cukup Stabil, Fenomena El Nino Tidak Terlalu Berdampak...

Stok Pangan di Kukar Cukup Stabil, Fenomena El Nino Tidak Terlalu Berdampak pada Hasil Panen Petani Kukar

Kutai Kartanegara, JurnalKaltim.com – Fenomena El Nino saat ini tengah terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara. Namun, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kukar mengatakan peristiwa El Nino ini tidak terlalu berdampak pada hasil panen petani di Kukar.

Cadangan Pangan Cukup Stabil Untuk Antisipasi Gagal Panen

Sutikno, Selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara menyampaikan, gagal panen pertama tanaman padi sawah yang dialami oleh petani di beberapa wilayah Kukar terjadi karena keterlambatan penanaman.

fenomena el nino,
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kutai Kartanegara Sutikno
Foto : OZN

“Untuk di Kukar hanya sebagian kecil saja petani kita yang gagal panen, tidak sampai 10 persen” katanya.

Selain itu, Sutikno menuturkan, gagal panen juga terjadi karena keterbatasan alat mesin pertanian di beberapa kelompok tani.

“Gagal panen di beberapa wilayah Kukar itu hanya beberapa persen saja dan itu bukan karena fenomena El Nino tapi hanya karena keterlambatan dalam penanaman” jelasnya.

Menurut dirinya, para petani di Kukar masih kekurangan alsintan. Sehingga para petani harus bergantian menggunakannya, bagi kelompok petani yang pertama menggunakan alsintan masih bisa panen. Sedangkan bagi kelompok petani yang terakhir menggunakan alsintan, tidak sempat panen dikarenakan musim El Nino datang.

Akibat dari peristiwa itu, Sutikno terus berupaya untuk mengantisipasi agar ketahanan pangan di Kukar tetap stabil.

Dirinya juga menambahan, Pemkab Kukar saat ini masih memiliki cadangan pangan yang dapat disalurkan ke masyarakat terdampak untuk menjaga kestabilan stok pangan.

“Cadangan pangan kita masih cukup untuk mengatasi kelangkaan maupun gagal panen. Namun, kita juga berharap agar fenomena El Nino atau musim kemarau ini segera berakhir” pungkasnya.

Dampak Fenomena El Nino

Fenomena El Nino sangat berpengaruh terhadap pola cuaca global, termasuk di Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino di Indonesia akan berlangsung hingga Desember 2023.

El Nino merupakan fenomena cuaca yang mencakup perubahan suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik yang tidak normal. Suhu menjadi lebih hangat dari biasanya ini mengakibatkan pengurangan udara basah di wilayah sekitarnya yang pada akhirnya ikut menaikkan suhu.

Pada tahun  ini, menurut analisis BMKG, fenomena itu telah mengakibatkan kemarau di 63 persen di wilayah Indonesia, termasuk Jawa, NTB, Bali, NTT, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Selatan dan Papua selatan.

Fenomena El Nino terjadi sebagai salah satu gejala pada iklim yang dinyatakan muncul atau terjadi jika terdapat kenaikan suhu rata – rata air laut di Samudra Pasifik. Biasanya sebanyak 0,5 derajat celcius dan jika terjadi muncul hubungan antara samudra dan atmosfer secara masif yang menghasilkan suhu lebih hangat. Berikut adalah ciri – ciri El Nino :

  • Kenaikan suhu udara ketimbang suhu normal
  • Rendahnya curah hujan yang terdapat di Papua (Indonesia)
  • Tingginya curah hujan di wilayah dekat Peru (Amerika Selatan)
  • Angin pasat dari arah timur mengalami pelemahan, hal ini disebabkan angin yang seharusnya bergerak di Peru ke Papua bergerak dari Papua ke Peru.

Dampak fenomena El Nino bagi Indonesia adalah mengakibatkan musim kemarau panjang dan curah hujan yang tidak normal. Hal ini dikarenakan munculnya kekeringan, kebakaran hutan atau lahan, kematian tanaman pertanian, polusi dan asap serta adanya gangguan yang menyasar pada teknologi penebangan, pelayaran sampai pernapasan.

Salah satu bahaya yang paling diantisipasi masyarakat suatu wilayah saat terjadinya fenomena ini adalah munculnya berbagai macam penyakit. Bencana alam yang muncul akibat El Nino bisa menyebabkan banyak orang terserang penyakit, diantaranya demam berdarah, flu, infeksi saluran pernapasan akut hingga penyakit kulit.

Fenomena ini juga berdampak pada hasil panen pertanian, peristiwa ini bisa membuat kerugian dengan adanya gagal panen. Disebabkan mulai dari ketersediaan air yang menurun, sehingga memunculkan kekeringan dan membuat konsumsi air pada tanaman sangat berkurang. Selain di pertanian, dampak fenomena ini juga menyasar pada kehidupan laut seperti jumlah ikan menurun.

(Adv/DiskomKukar)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Read More